Rabu, 28 Desember 2011

LAPORAN LAMUN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Banyak daerah di laut dangkal yang diliputi oleh tumbuhan “rumput” air yang lebat, yang secara umum disebut rumput-rumputan laut (lamun). Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang beradaptasi untuk hidup terendam di dalam air laut.
Lamun (sea grass), atau disebut juga ilalang laut merupakan satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput didarat, mereka mempunyai tunas berdaun tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut yang lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk menghangkut gas dan zat-zat hara.
Banyak daerah di dasar laut-dangkal yang diliputi oleh tumbuhan “rumput” air yang lebat, yang secara umum disebut rumput laut. Rumput laut merupakan tumbuhan berbunga yang beradaptasi untuk hidup terendam di dalam air laut.
Lamun sangat berperan dalam ekosistemnya yaitu dalam hal dapat menstabilkan garis pantai karena lamun ini memiliki akar yang terjalin dengan kuat sehingga dapat menstabilkan substrat yang ada agar tidak cepat tererosi oleh arus maupun gelombang air laut.Selain itu juga fungsinya dalam mempertahankan kehidupan dari biota-biota laut seperti ikan dalam bentuk juvenille karen lamun ini berfungsi dalam hal nursery ground, feeding ground, dan spawning ground.




1.2 Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengamati, mempelajari komponen-komponen ekologi yang terdapat pada ekosistem padang lamun (sea grass).
2. Mahasiswa dapat mempelajari dan mengetahui morfologi luar lamun.
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi masing-masing lamun yang ada dengan bantuan buku identifikasi.
4. Mahasiswa dapat membedakan dan menunjukkan berbagai jenis lamun berdasarkan spesiesnya.

1.3 Manfaat Praktikum
Setelah melakukan praktikum Botani Laut “Lamun (sea grass)”, mahasiswa diharapkan telah dapat memahami dan menjelaskan morfologi dan anatomi organisme-organisme lamun (sea grass) serta mampu mengklasifikasi dalam susunan yang benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan adalah lamun, dimana secara ekologis lamun mempunyai bebrapa fungsi penting di daerah pesisir. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme. Menurut Nybaken (1988), biomassa padang lamun secara kasar berjumlah 700 g bahan kering/m2, sedangkan produktifitasnya adalah 700 g karbon/m2/hari. Oleh sebab itu padang lamun merupakan lingkungan laut dengan produktifitas tinggi.
Lamun atau sea grass adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang terdapat di lngkungan laut dan hidup di perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara
Terdapat 4 hal ciri-ciri lamun
1. Toleransi terhadap kadar garam lingkungan.
2. Tumbuh pada perairan yang selamanya terendam.
3. Mampu bertahan dan mengakar pada lahan dari hempasan ombak dan arus.
4. Menghasilkan polinasi hydrophilous ( benang sari yang tahan terhadap kondisi perairan )
( Nybaken, 1988)
Lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Lebih dari 52 jenis lamun yang telah ditemukan. Di Indonesia hanya terdapat 7 genus dan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu : Hydrocharitacea ( 9 marga, 35 jenis ) dan Potamogetonaceae (3 marga, 15 jenis). Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain : Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodoceae serulata, dan Thallasiadendron ciliatum Dari beberpa jenis lamun, Thalasiadendron ciliatum mempunyai sebaran yang terbatas, sedangkan Halophila spinulosa tercatat di daerah Riau, Anyer, Baluran, Irian Jaya, Belitung dan Lombok. Begitu pula Halophila decipiens baru ditemukan di Teluk Jakarta, Teluk Moti-Moti dan Kepulaun Aru.
Ekologi
Secara ekologi, kebun lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir. Lamun merupakan sumber utama produktivitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme (dalam bentuk detritus). Selanjutnya mereka berfungsi menstabilkan dasar-dasar lunak dimana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penstabilan dasar olah akar ini sangat kuat dan mampu bertahan dalam badai topan sekalipun. Sebaliknya, sistem ini dapat melindungi banyak organisme. Jadi terdapat banyak hewan umum yang dijumpai di kebun lamun, tetapi tidak berhubungan dengan tingkatan makanan secara langsung. Kebun lamun berperan juga sebagai tempat pembesaran bagi banyak spesies yang menghabiskan waktu dewasanya di lingkungan lain.
Kebun lamun juga berlaku sebagai perangkap sedimen dan selanjutnya membentuk dasar. Jika pertumbuhannya mencapai permukaan, daun yang mengapung mematahkan kekuatan ombak, dan dengan demikian membentuk habitat yang berair tenang di bawahnya.
Komposisi dan Distribusi
Menurut den Hartog (1977), rumput laut / lamun diseluruh dunia hanya mencakup sekitar 50 spesies. Ini adalah yang terkecil dibanding dengan kepentingan ekologinya.
Kebanyakan spesies lamun mempunyai morfologi luar yang secara kasar hampir serupa. Mereka mempunyai daun-daun yang panjang, tipis, dan mirip pita yang mempunyai saluran-saluran air, serta bentuk pertumbuhannya monopodial. Tumbuhan ini tumbuh dari rizoma yang merambat. Jika dibandingkan dengan tumbuhan perairan tawar, jumlah spesies lamun lebih sedikit dan ragam morfologinya juga lebih sedikit.
Lamun terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 50 atau 60 m. Namun mereka tampak sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesiesnya lebih banyak terdapat di daerah tropik. Semua tipe substrat dihuni oleh lamun ini. Mulai dari lumpur encer sampai batu-batuan, tetapi kebun yang paling luas dijumpai pada substrat yang lunak.tersebut. Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka boleh dikatakan ekosistem lamun terletak di antara 2 ekosistem bahari penting yaitu ekosistem mangrove dan ekosistem terumbu karang. Dengan letak yang berdekatan dengan 2 ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolisasi atau berdiri sendiri tetapi berinteraksi dengan kedua ekosistem
Dalam ekosistem lamun, rantai makanan terusun dari tingkat-tingkat trofik yang mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari ekosistem lamun ke konsumen yang agak rumit. Sumber bahan organik bersal dari produk lamun itu sendiri, di samping tambahan dari epifit dan alga makrobentos, fitoplankon dan tanaman darat. Zat organik dimakan fauna melalui perumputan (grazing) atau pemanfaatan detritus.
Lamun biasanya terdapat dalam julah yang melimpah dan sring membentk padang lamun yang lebat dan luas di perairan tropik. Sifat-sifa llingkungan pantai, terutama dekat estuari, cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan lamun. Namun seperti halnya mangrove, lamun juga hidup di lingkungan yang sulit. Pengaruh gelombang, sedimentasi, pemanasan air, pergantian pasang dan surut dan curah hujan, semuanya harus di hadapi dengan gigih dengan penyesuaian-penyesuaian secara morfologik dan faal.
Penyesuaian secara morfologik dilakukan dengan berbagai bentuk, misalnya daun yang seperti rumput, lentur dan sistem akar dari rimpag yang meluas mampu berthan terhadap pengaruh ombak, pasut dan perpindahan sedimen du habitat pantai yang dangkal. Lamun yang hidup di periran yang sering terkena pemanasan yang intensif sehingga suhu air meninggi lebih banyak berupa varietas yang berdaun kecil.
(Romimohtarto, 2001)
Penyesuaian faal atau perilaku ditunjukkan oleh tiga jenis lamun, lamun tropika, benang, bergigi, dan lamun sendok kecil. Masing-masing jenis mempunyai dua varietas yakni :
a. Varietas dengan kisaran toleransi yang kecil (stenobiontik) terhadap panjangnya sang, pasut, curah hujan, dan sushu.
b. Varietas dengan kisaran toleransi yang lebar (euribiontik) terhadap faktor-faktor tersebut diatas.
Varietas stenobiontik dari lamun tropika ini sifatnya musiman, brdaub sempit dan tipis serta tumbuhnya jarang, umumnya hidup pad bagian antar-pasut dari terumbu karang terbuka. Varietas euribiontik, sebaliknya, terdapat sepanjang tahun dengan daun yang lebar dan tebal. Varietas ini hidup padat di bawah surut terendah dari suatu teluk terlindung.
Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumnbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya.
( Bengen, 1999 )
Lamun tumbuh bertahun-tahun, rimpangnya tumbuh memanjang dan membentuk pasangan-pasangan daun dan akar baru. Kadang-kadang ia membentuk komunitas yang lebat sehingga merupakan padang lamun (sea grass bed) yang cukup luas. Padang lamun mempunyai produktifitas organik yang sangat tinggi. Di situ terdapat macam-macam biota laut seperti Crustacea, Molusca, cacing dan juga ikan. (Romimohtarto,1999).
Di samping sebagai tempat mencari makan dan memijah, padang lamun juga dapat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan gelombang (sebagai peredam gelombang) sehingga perairan di sekitarnya tenang. Hal ini menyebabkan substrat di bawah padang lamun menjadi lebih stabil. Oleh karena itu, padang lamun disukai oleh organisme-organisme yang lain karena digunakan sebagai tempat berlindung bagi larva-larva yang baru menetas dari arus maupun berlindung dari sinar matahari.
Ada 58 jenis lamun di dunia dan 12 jenis diantaranya telah ditemukan di Indonesia, yaitu Sryngodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halophila spinulosa, Halophila minor, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Thalasodendron ciliatum, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides.
Ada tiga marga yang paling banyak dijumpai di perairan pantai, yaitu Halophila ovalis, yang terdapat di pantai pasir, di paparan terumbu, dan di dasar perairan lumpuran dari paras pasut rata-rata pada pasut purnama, memberikan lingkungan yang cocok bagi pelekatan alga. Di perairan laut mereka membentuk tajuk (canopy). Sedangkan bunganya berkelamin tunggal dan soliter. (Romimohtarto, 2001)
Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan yang datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah ataumengasuh anaknya seperti ikan. Selain itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii
(Nontji, 1987)
Di daerah padang lamun, organisme melimpah, karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan baik daunnya mapupun epifit atau detritus. Jenis-jenis polichaeta dan hewan–hewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk algae, epifit, mikroflora dan fauna.
Apabila air sedang surut rendah sekali atau surut purnama, sebagian padang lamun akan tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah Enhalus acoroides, sehingga burung-burung berdatangan mencari makann di padang lamun ini.
Ekosistem padang lamun yang memiliki produktivitas yang tinggi, memiliki peranan dalam sestem rantai makanan khususnya pada periphyton dan epiphytic dari detritus yang dihasilkan dan serta lamun mempunyai hubungan ekologis dengan ikan melalui rantai makanan dari produksi biomasanya.
(Nontji, 1987)
Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan yang datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichi. (Nontji, 1987)
Di daerah padang lamun, organisme melimpah, karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan baik daunnya mapun epifit atau detritus. Jenis-jenis polichaeta dan hewan–hewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk algae, epifit, mikroflora dan fauna.
Pada padang lamun ini hidup berbagai macam spesies hewan, yang berassosiasi dengan padang lamun. Di perairan Pabama dilaporkan 96 spesies hewan yang berassosiasi dengan beberapa jenis ikan. Di teluk Ambon di temukan 48 famili dan 108 jenis ikan. Di Teluk Ambon ditemuklan 48 famili dan 108 jenis ikan adalah sebagai penghuni lamun, sedangkan di Kepulauan Seribu sebelah utara Jakarta di temukan 78 jenis ikan yang berassosiasi dengan padang lamun. Selain ikan, sapi laut dan penyu serta banyak hewan invertebrata yang berassosiasi dengan padang lamun, seperti: Pinna sp, beberapa Gastropoda, Lambis, Strombus, teripang, bintang laut, beberapa jenis cacing laut dan udang (Peneus doratum) yang ditemukan di Florida selatan (Nybakken, 1988),Apabila air sedang surut rendah sekali atau surut purnama, sebagian padang lamun akan tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah Enhalus acoroides, sehingga burung-burung berdatangan mencari makann di padang lamun ini. (Nontji, 1987)

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilakukan 2 kali pada :
Waktu :
 Hari/Tanggal : Jumat,
Pukul :
Tempat : Laboratorium Kelautan Terpadu Jurusan Ilmu Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro Semarang.
 Hari/Tanggal : Sabtu, 8 Juni 2007
Pukul : 08.00 WIB – Selesai
Tempat : Laboratorium Kelautan Teluk Awur Jurusan
Ilmu Kelautan. Universitas Diponegoro. Teluk Awur Jepara.

3.2. Alat dan Bahan
3.2.1 Alat :
 Alat Tulis digunakan untuk menulis dan menggambar sample
 Alat skin (snorkel, masker, fin) untuk mengambil bahan sampel di laut
 Kertas Bergaris digunakan untuk menggambar
 Penggaris untuk mengaris dan mengukur sampael
 Buku identifikasi : untuk membantu mengidentifikasi bahan sampel yang diamati

3.2.2 Bahan :
Beberapa jenis lamun yang ditemukan di laut, seperti : Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Cymodocea srrulata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halodule uninervis.

3.3. Metode/cara kerja
 Mengamati bahan sample lamun meliputi ciri-ciri dan morfologinya.
 Menggambar bahan sample lamun yang diamati, mencatat dan mengukur hal-hal yang perlu diukur.
 Mengidentifikasi jenis-jenisnya dan menentukan klasifikasinya.
 Mengambil bahan sampel di laut menggunakan alat skin (snorkel, masker dan fin)
 Mencatat sebagai laporan sementara

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Cymodocea rotundata


Taksonomi

Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Posidonioidea
Sub famili : Cymodoceoideae
Genus : Cymodocea
Spesies : Cymodocea rotundata

Ciri-cirinya

 Ujung daun bulat dan halus
 Daun membujur
 Daun menjepit ke bagian dalam
 Akar serabut
Enhalus acoroides


Cymodocea serrulata



Taksonomi

Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Hydrocharitaceae
Sub famili : Hydrocharitoideae
Genus : Enhalus
Spesies : Enhalus acoroides





Taksonomi

Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Cymodoceae
Sub famili : Cymodoceoideae
Genus : Cymodocea
Spesies : Cymodocea
serrulata
Ciri-cirinya

 Memiliki rimpang
 Akar serabut
 Daun kuat dan membujur
 Panjang daun 46,5 cm




Ciri-cirinya

 Bentuk daun seperti pita
 Ujung daun bergerigi
 Warna daun hijau
 Akar serabut
Sryngodium isoetifolium




Taksonomi

Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Potamogetonaceae
Sub famili : Posidonioidea
Genus : Sryngodium
Spesies : Sryngodium
isoetifolium

Ciri-cirinya

 Ujung daun seperti jarum
 Akar serabut
 Warna daun hijau kekuningan
 Batangnya beruas-ruas

Halophila ovalis

Taksonomi

Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Hydrocharitaceae
Sub famili : Halophiloideae
Genus : Halophila
Spesies : Halophila ovalis

Ciri-cirinya

 Daun bulat lonjong, bentuk seperti telur
 Tulang daun 10-14 cm
 Akar tunggang
 Tulang daun menyirip

Halodule uninervis



Taksonomi

Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Potamogetonaceae
Sub famili : Haloduloideae
Genus : Halodule
Spesies : Halodule uninervis
Ciri-cirinya

 Ujung daun seperti tanduk
 Bentuk kecil dan panjang
 Akar serabut


4.2 PEMBAHASAN

4.2.1. Cymodocea rotundata
Cymodocea rotundata merupakan kelas dari Angiospermae. Tumbuhan ini terdiri atas beberapa helai daun dalam tiap bonggolnya di dalam leaf sheat.. Daunnya berwarna hijau, sempit dan tipis, tetapi lebih tipis daripada Enhalus. Lebar daun kurang lebih 4 mm. Ujung daunnya halus (licin). Pada rhizomnya terdapat ruas-ruas yang agak jarang, dengan akar yang tidak banyak pada setiap ruasnya. (Romimohtarto, 2001)

4.2.2. Enhalus acoroides
Enhalus acoroides merupakan kelas dari Angiospermae. Struktur tanaman ini terdiri dari daun-daun yang panjang dan pipih kaku seperti kulit (leathary linear) atau seperti ikat pinggang yang kasar (coarse strap shape), berwarna hijau dalam pelepah bonggol (leaf sheat). Batangnya mempunyai serabut-serabut hitam yang kaku. Tumbuhan perdu bawah air ini memiliki akar yang kuat yang tumbuh mendatar di dalam substrat yang berupa pasir atau lumpur yang halus. Tumbuhan ini terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasut purnama pada dasar pasir lumpuran. Mereka tumbuh subur di bawah tempat terlindung di pinggir bawah dari mintakat pasut dan di batas atas mintakat bawah lithoral. (Romimohtarto, 2001)

4.2.3. Cymodocea serrulata
Cymodocea serrulata merupakan kelas dari Angiospermae. Ciri morfologisnya hampir sama dengan Cymodocea rotundata, hanya perbedaannya terdapat pada tepi daunnya. Pada C. rotundata , tepi daunnya halus (licin), sedangkan pada C. serrulata tepi daunnya kasar (bergerigi).
(Romimohtarto, 2001)

4.2.4 Sryngodium isoetifolium
Sryngodium isoetifolium merupakan kelas dari Angiospermae. Lamun jenis ini mempunyai bentuk daun yang panjang dan kecil silindris seperti lidi dengan ujung daun runcing. Daunnya berwarna hijau dan terdiri dari beberapa helai pada tiap-tiap tegakan. Akarnya serabut dan terdapat ruas-ruas pada tiap tegakan. (Romimohtarto, 2001)

4.2.5. Halophila ovalis
Halophila ovalis merupakan kelas dari Angiospermae. Lamun ini lain daripada yang lain, karena mempunyai daun yang tidak panjang, tetapi bentuk daunnya bulat panjang seperti telur atau pisau wali. Dalam tiap ruas rhizomnya terdapat beberapa pasangan daun dengan satu daun pada tiap tegakan. Lebar daun 10 mm dan panjangnya berkisar antara 10-40 mm. Pada daunnya terdapat beberapa pasang tulang daun yang menyirip. (Romimohtarto, 2001)

4.2.6 Halodule uninervis
Halodule uninervis merupakan kelas dari Angiospermae. Lamun jenis ini memiliki ciri-ciri batang dan daunnya terlihat jelas, pada akarnya terdapat ruas-ruas dan tiap beberapa ruas terdapat akar yang serabut. Pada daun terdapat leaf sheat yang tidak bertandan-tandan. Pada tiap tegakan terdapat 2-4 helai daun yang berwarna hijau dan panjangnya kurang lebih 6-7 cm. Daunnya seperti pita tetapi tidak lebar. Ujung daunnya rata dan tepi daunnya halus. Lamun ini tumbuh di substrat pasir yang lunak. (Romimohtarto, 2001)

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan :
1. Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi yang termasuk dalam divisi Anthophyta
2. Lamun telah mempunyai akar, batang dan daun.
3. Lamun hidup di daerah yang selalu terendam air dan mampu melakukan penyerbukan di bawah air.
4. Beberapa hal yang dapat membedakan spesies pada lamun antara lain bentuk daun, jumlah lembaran daun dalam tiap bonggol, tepi daun, akar, subtrat dan lain-lain.
5. Dari hasil pengamatan, ditemukan ada enam jenis lamun yang terdapat di perairan pantai Ujung Piring, yaitu Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Cymodocea srrulata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halodule uninervis.

5.2 Saran
1. Saat melakukan pengamatan, praktikan diharapkan lebih serius dalam mengamati, apalagi waktu melakukan identifikasi lamun.
2. Saat mengidentifikasi perlu diperhatikan kecermatan dalm mencocokkan sampel yang ada pada buku identifikasi.
3. para asisten harusnya lebih membantu dan lebih mengawasi para praktikan dalam perlakuan percobaan.




DAFTAR PUSTAKA
.
Bengen,D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Instititut Pertanian Bogor.
Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan
Nybaken,J.W. 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Gramedia, Jakarta.
Romimohtarto Kasijan-Sri Juwana. 2001. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI. Jakarta.


Klasifikasi lamun ( sea grass ) adalah sebagai berikut :
Divisi : Anthophyta
Klas : Angiospermae
Subklas : Monocotyledoneae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Hydrocharitaceae
Sub famili : Zosteroideae
Genus : Zostera ( 11 spesies )
Sub genus : Zostera ( 4 spesies )
Z. marina
Z. caespitosa
Z. caulescens
Z. asiatica Miki
Sub genus : Zoterella ( 7 spesies )
Z. capricorni
Z. micronata
Z. muelleri
Z. capensisi
Z. novazelandika
Z. nolti
Z. japonica
Genus Heterozostera ( 1 spesies ) : H. tasmanica
Genus Phyllospadix ( 5 spesies )
P. torreyi
P. scauleri
P. serrulatus
P. iwatensis
P. japonikus
Famili : Posidiniaceae
Genus : Posidonia ( 9 spesies )
P. oceanioa
P. abngustifolia
P. australis
P. osienfeldii
P. coriacea
P. denhartogii
P. kirkmanii
P. robertsonae
Sub famili : Cymodoceoideae
Genus : Holodule ( 7 spesies )
H. pinifolia
H. uninervis
H. beaudettei
H. wrightii
H. bermudensis
H. ciliate
H. brasiliensis
Genus : Cymodocea ( 4 spesies )
C. angustata
C. ronmdala
C. nodosa
C. serrulata
Genus : Syringodium ( 2 spesies )
S. isoetifolium
S. filiforme

Genus : Amphibolis ( 2 spesies )
A. antartica
A. griffithii
Genus : Thalassodendron ( 2 spesies )
T. ciliatum
T. pachyrrizum
Famili : Hydrocharitacheae
Sub famili : Hydrocharitacheae
Genus : Enhalus
Sub famili : Thalassiodeae
Genus : Thalassia ( 2 spesies )
T. hempricii
T. testudinum
Sub famili : Halophiloideae
Genus : Halophila ( 8 spesies )
H. decipiens
H. australis
H. desipiens
H. ovalis
H. minor
H. hawaiiana
H. stipulacea
H. johnsonii

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar